Sejarah Panjang Keramik Kota Lisbon

Sejarah Panjang Keramik Kota Lisbon

Sejarah Panjang Keramik Kota Lisbon – Lisbon merupakan salah satu nama kota yang berada di negara Portugal, kota ini terkenal dengan keramik uniknya yang menghiasai setiap bangunan-bangunan di kota ini. Berbeda dengan rumah dan bangunan yang biasa kita lihat, hampir seluruh bangunan yang ada di kota Lisbon bukan berdinding tembok, tapi berdinding keramik, seperti yang digunakan untuk lantai bangunan.

Namun keramik yang dipasang pada dinding bangunan dan rumah di kota Lisbon bukan hanya keramik biasa yang polos, nih, teman-teman.
Keramik yang dipasang di dinding bangunan dan rumah di Lisbon terlihat menarik, bahkan ada yang menceritakan sebuah kisah dari potongan keramik yang dipasang.

Selain membuat kota Lisbon menjadi lebih menarik, ternyata ada sejarah panjang penggunaan keramik untuk dinding di rumah dan bangunan kota Lisbon.

Seperti apa, ya, kisah keramik di Lisbon yang menjadikannya semakin menarik?

Sebagian Besar Tembok Rumah dan Bangunan di Kota Lisbon Dilapisi Keramik

Apa warna cat dinding rumah dan kamar tidur teman-teman? Mungkin dinding kamar tidur teman-teman dicat dengan warna favorit.

Berbeda dengan di rumah kita, sebagian besar bangunan di kota Lisbon dindingnya dipasangi keramik, seperti lantai rumah.

Namun keramik yang dipasang bukan keramik polos, nih, tapi berhiaskan berbagai lukisan dan gambar yang berwarna-warni.

Bahkan pada beberapa bangunan, keramik yang dipasang menunjukkan kisah atau cerita tertentu.
Seperti keramik yang dipasang di Stasiun Alameda, yang menggambarkan navigator dan kapal sebagai cerita sejarah pelayaran Portugal.

Pemasangan keramik pada dinding-dinding bangunan kota Lisbon membuat kota ini menjadi terlihat lebih menarik dan berwarna-warni.

Selain kisah sejarah, ada berbagai pola yang juga digambarkan pada keramik, yang membuatnya kemudian disebut sebagai seni keramik atau seni ubin.

Keramik Pertama Kali Sampai di Portugal pada Abad ke-15

Keramik yang menghiasi dinding bangunan kota Lisbon disebut sebagai azulejo, yaitu kata turunan dari bahasa Portugis, yang artinya ‘biru’.

Namun sebenarnya kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu az-zulayj, yang berarti ‘batu yang dipoles’.

Azulejo pertama kali masuk ke Portugal pada abad ke-15, yanag diimpor dari Spanyol.

Masuknya azulejo ke Portugal ini atas permintaan Raja Manuel I yang saat itu memimpin Portugal, karena dirinya melihat keindahan kota Granada, Spanyol, dan ingin menghiasi Istana Sintra dengan keramik.

Saat itu, pola lukisan pada keramik masih terbatas pada pola geometris dengan warna yang terbatas.

Namun seiring waktu, seniman Portugis mulai menambahkan berbagai gambar di keramik, mulai dari gambar hewan, tumbuhan, hingga manusia.

Bahkan keramik yang mereka buat mulai menceritakan berbagai kisah, nih, teman-teman, yang kemudian dipasang di gerejaa-gereja kota Lisbon.
Azulejo Semakin Populer di Abad 18 dan 19

Setelah banyak bangunan yang menggunakan keramik lukis untuk dindingnya, semakin banyak bangunan yang temboknya berlapiskan keramik, nih.

Hingga akhirnya pada abad ke-18 dan 19, penggunaan keramik di Portugal mencapai puncaknya dan digunakan hampir di setiap rumah dan bangunan kota Lisbon.

Dengan menggunakan keramik yang dipasang di dinding, mereka menganggap kalau hal ini membuat rumah mereka terlihat lebih berseni.

Selain itu, pemasangan keramik juga berdasarkan alasan kepraktisan.

Keramik yang dipasang pada dinding luar rumah akan membuat rumah lebih sejuk ketika musim panas, tapi juga melindungi rumah dari kelembapan, dan mengurangi suara bising dari jalan.

Baca Juga: Wadi, Makanan Fermentasi khas Suku Dayak dan Banjar di Kalimantan, Pernah Coba?

Ternyata Azulejo Juga Pernah Tidak Disukai, lo

Karena banyaknya orang yang memasang azulejo di dinding rumahnya, azulejo sempat tidak disukai oleh orang-orang.

Hal ini berlangsung pada abad 20, di mana orang-orang menganggap azulejo dan seni ubin dilihat sebagai sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat kelas baawah.

Ketika itu, azulejo sempat dianggap bukan sebagai sesuatu yang indah dan menghiasi gereja dengan berbagai kisahnya, nih.

Azulejo banyak dianggap sebagai keramik yang hanya menutupi rumah-rumah masyarakat kelas bawah.

Baca Juga: Ibu Kota Portugal Kota Lisbon Di Terjang Gempa

Tahun 1950an, Azulejo Kembali Disukai dan Dianggap Sebagai Seni

Setelah tidak disukai oleh banyak orang, sekitar tahun 1950-an, azulejo kembali disukai oleh penduduk Lisbon.

Penyebabnya adalah pembangunan stasiun kereta Lisbon yang dihiasi dengan keramik azulejo.

Pembangunan stasiun kereta Metro Lisabon melibatkan seorang seniman bernama Maria Keil yang diminta untuk menutupi dinding stasiun dengan keramik.

Hal ini dipilih karena biaya perawatan dinding keramik dianggap lebih murah dibandingkan dinding tembok dari semen.

Ada 19 stasiun kereta yang kemudian dihiasi dengan keramik yang menceritakan berbagai kisah dan lukisan warna-warni.
Berbagai Keramik dengan Pola Menarik Ada di Museum Keramik Lisbon

Karena kota Lisbon terkenal dengan keindahan keramiknya, bahkan ada museum khusus yang berisikan berbagai keramik, lo.

Museum ini bernama Lisbon’s Tile Museum atau Museum Keramik Lisbon yang terletak di bekas sebuah biara, yaitu biara Madre de Deus.

Lokasi ini dipilih karena biara ini terkenal dengan berbagai azulejo yang menarik.

Di museum ini, terpajang berbagai koleksi dan contoh keramik di Lisbon yang menampilkan berbagai cerita.

Banyaknya keramik dengan berbagai warna dan cerita inilah yang membuat kota Lisbon menjadi menarik dan banyak dikunjungi turis untuk melihat keindahan serta keunikan bangunan.

Continue Reading

Lisbon Kota Tercantik Di Portugal

Lisbon-Kota-Tercantik-Di-Portugal

no2lisbon – Setelah kunjungan sukses ke Spanyol, kami ikut melirik negara sebelahnya, Portugal. Sayang sungguh sayang keinginan kesana agak lama terpendam. Susah sekali mendapat tiket penerbangan murah ke negara itu. Berkali kami mengecek lewat bermacam maskapai penerbangan murah, atau agen perjalanan. Nihil. Sampai suatu ketika Emak melihat penawaran penerbangan murah dari Lufthansa, maskapai yang termasuk mahal di Jerman.

Adanya penawaran ini kebetulan sesuai dengan jadwal kami. Tak mau membuang kesempatan, kami segera pesan tiketnya. Awalnya kami bimbang, mau tiga atau empat hari disana. Setelah berkonsultasi dengan Walter, sahabat sekaligus penasihat jalan-jalan kami yang mengatakan bahwa Lisbon adalah salah satu kota tercantik di Eropa yang pernah dikunjunginya, maka kami putuskan empat hari di sana. Lagipula, kami kesana di bulan Maret, cuaca cukup enak untuk bepergian ke daerah selatan. Tak terlalu panas, tak terlalu dingin.

Menjelajah Lisbon

Namun kenyataannya, saat siang bolong sampai di Lisbon, kami kegerahan. Mungkin karena kami berasal dari daerah lebih dingin di Eropa Tengah. Apalagi setelah turun bus kota pakai acara kesasar saat mencari penginapan. Selain panas, ada tambahan bete, naik turun ibukota berbukit Portugal.

Kelar rehat sejenak dan mengisi perut di penginapan, kami mulai berjalan ke beberapa tempat. Benar juga, meski sebagian kota terlihat kumuh tak terawat, Lisbon masih menampakkan kecantikannya di banyak tempat. Rupanya kota ini mengalami penurunan jumlah penduduk cukup parah. Pantas saja banyak apartemen tak berpenghuni.

Waktu efektif penjelajahan kami di Lisbon adalah sekitar dua setengah hari. Kami manfaatkan sebaik mungkin. Kami membeli tiket harian di hari terakhir. Sedangkan dua hari pertama lebih memilih jalan-jalan naik turun perbukitan di kota ini. Dengan berjalan kaki, pesona suatu tempat bakal lebih banyak diserap dibanding kita memanfaatkan kendaraan. Namun karena medan lumayan berat, tentu saja di dua hari pertama kami menjelajahi daerah kota yang dekat dengan penginapan saja.

Kami berbekal satu peta kota pemberian ibu pemilik penginapan, seorang muslim India asal Mozambique. Sasaran pertama adalah Praca do Comercio, hanya berpuluh meter dari penginapan. Sebuah tempat terbuka di tepi Rio Tejo. Sebagian sedang ditutup karena renovasi. Kami berfoto di tepi sungai. Udara panas berbaur dengan hembusan angin sungai.

Dari sana, perjalanan berlanjut ke arah pusat kota Baixa. Baixa ini adalah daerah pertokoan, perkantoran sekaligus pemukiman. Lokasinya di pusat Lissabon bagian bawah. Jika dilihat dari perbukitan atau daerah tinggi atau peta, terlihat bahwa bentuk Baixa sangat unik. Gedung-gedungnya berjajar rapi menyerupai barisan. Trotoarnya terbuat dari keramik. Licin sebab sering dilewati pejalan kaki. Di sini selain pedagang kaki lima, bermukim butik, galeri, pertokoan serta restauran. Ada restauran khusus menjual makanan laut mahal seperti lobster dan kepiting raksasa. Binatang laut tersebut dipajang dalam keadaan hidup dalam akuarium. Pembeli bisa memilih dan membelinya dengan harga 65 euro per kilogram. Waks… Mana mampu kami membeli makanan semahal itu?

Baca Juga : Pusat Kuliner di Dunia dengan Bangunan Unik

Dari Baixa kami mendaki menuju Castelo de Sao Jorge di daerah perbukitan timur Baixa. Tanjakannya terjal. Kami lewat jalanan berbatu dan gang-gang berundak. Di bekas benteng yang pernah dikuasai kaum muslim ini hari mulai gelap dan angin malam makin kencang berhembus. Tak lama kami di daerah ini sebab tak bersiap dengan kostum lebih tebal.

Besoknya, petualangan dilanjtkan ke tempat lebih jauh. Agak pagi kami sudah bersiap keluar penginapan. Rute hari itu adalah kembali melewati Baixa ke Rossio, Marques de Pombal, lalu mendaki lagi hingga ujung Parque Eduardo VII.

Rossio adalah tempat terbuka lebar di jantung Lisbon. Hampir setiap kendaraan umum seperti bus, tram, dan metro melewati tempat ini. Sekelilingnya adalah gedung-gedung pertokoan, restauran, dan bank. Di tengahnya sebuah air muncrat besar dan cantik. Alasanya diplester dengan motif gelombang. Melambangkan air sebagai elemen penting bagi kota Lisbon dan Portugal pada umumnya. Plester pertama dipasang sejak 1849 oleh para narapidana di sana. Sebuah patung Raja Pedro IV berdiri gagah di depan satu gedung tinggi.

Kami sempat membeli roti sebagai tambahan bekal di sebuah toko roti, sebelum lanjut ke Eustacio do Rossio, sebuah stasiun dengan pintu sangat besar dan unik. Bentuknya mirip setengah lingkaran dan berukir. Dari sini perjalanan panjang dan menanjak sepanjang Avenida da Liberdade dimulai. Jalanan ini punya trotoar diantara pepohonan tinggi. Bangku-bangku taman berjajar. Sebagai tempat istirahat para pejalan kaki atau tempat tidur beberapa gelandangan. Kami sempat duduk dan berfoto beberapa kali. Adik mulai rewel di kereta bayinya. Ingin bebas berjalan kaki. Kami pun menggandengnya sambil terus mendaki.

Jalanan makin menanjak saja sesampai di bundaran Marques de Pombal dimana sebuah monumen tinggi berdiri. Di belakangnya, adalah sebuah taman, Parque Eduardo VII, diambil dari nama Eduard VII dari Inggris yang mengunjungi Portugal tahun 1903. Selain jalanan makin menanjak di taman ini, pepohonannya pun jarang hanya di sampin jalan saja. Kami kepanasan dan berkali istirahat di bangku di tepi jalan. Namun pemandangan di bagian tertinggi taman sungguh mengagumkan. Puas foto, kami kembali turun untuk melanjutkan ke obyek wisata lain.

Kembali ke stasiun Rossio, memanfaatkan lift mereka, kami mendaki lagi menuju Chiado. Obyek tertangkap mata pertama di sini adalah Convento do Carmo, reruntuhan sebuah gereja yang rusak akibat gempa bumi besar di Lisbon tahun 1755. Tiang-tiang reruntuhan terlihat masih kokoh, sedangkan atapnya sudah ambruk.

Dari sini kami lanjut ke daerah Bairro Alto, katanya ada tempat dimana kita bisa membeli makanan serba ikan murah. Namun karena tak tahu persis tempatnya, setelah berkali mengelilingi jalanan dan gang-gang kecil dan kumuh, tetap saja tak bertemu. Jadi kami putuskan masuk ke sebuah pusat perbelanjaan untuk istirahat sekaligus makan sore. Sisa hari itu kami habiskan beristirahat di penginapan.

Keesokan harinya kami berniat menjelajahi kota dengan kendraan umum. Makanya pagi-pagi kami sudah ke loket penjual tiket. Pertama, kami ingin mencicipi naik tram legendaris nomor 28. Selain melewati banyak obyek wisata, tram tua berumur seabad lebih ini juga malalui daerah-daerah paling tua di kota ini. Cocok sekali bagi kami yang ingin melihat kehidupan warga kota secara lebih dekat.

Puas naik tram pp, kami lalu turun di Basilica da Estrela, berfoto sebentar di tamannya, lalu ke daerah wisata terkenal, Belem. Titik pertama adalah Torre de Belem, yang letaknya cukup jauh dari halte pemberhentian tram. Kami mesti berjalan ke arah tepi sungai bersama rombongan turis lainnya. Torre de Belem adalah obyek pertama yang dilihat setiap kapal sebelum masuk pelabuhan Lisbon. Karena memang itu tujuan dibangunnya menara ini. Sebagai penyambut setiap kapal yang masuk pelabuhan pada tahun 1521, sebab pelaut Portugal dulunya merupakan pelaut-pelaut termasyur diseluruh dunia. Bangunan elegan ini merupakan monumen nasional sejak 1902 dan bersama biara Jeronimos ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dunia oleh Unesco.

Sempat berfoto keluarga dan membeli beberapa cinderamata, kami terus berjalan ke monumen raksasa, Padrao dos Descobrimentos. Menjulang setinggi 52 meter, di kedua sisi monumen berdiri 30 patung orang-orang penting Portugis. Terdepan dan terbesar adalah Heinrich Sang Pelaut, memegang sebuah kapal di tangannya, dan memandang ke arah Sungai. Di belakangnya antara lain Vasco da Gama, Pedro Alvares Cabral, Ferdinand Magellan, Diogo Cao, Bartolomeu Dias, Raja Manuel I, dll. Tak ada peneduh, panas sekali disini. Tak lama setelah mengabadikan peta jelajahan Portugis di masa lampau, kami pun langsung menuju kompleks bangunan bersejarah Jeronimos tak jauh dari monumen.

Kompleks biara sekaligus gereja ini termasuk salah satu yang bertahan dari terpaan gempa besar tahun 1755 masehi. Ornamen berukir di sekelilingnya sangat indah. Sebenarnya orang bisa masuk gratis hingga ke halaman dalam. Namun cuaca panas dan capek, kami hanya mengabadikan dan menikmati dari luar saja.

Sorenya, kami sempatkan diri memotret saluran air raksasa bersejarah yang berfungsi mulai abad 18 hingga kini. Bersembahyang di satu-satunya mesjid di Lisbon, kami kembali dengan bus kota ke arah penginapan. Hari itu sangat banyak kami kunjungi dan sangat melelahkan. Besok pagi sekali, kami harus berkendara kembali menuju bandara. Indah sekali kota ini. Sehingga hampir empat hari mengelilingi rasanya belum cukup juga untuk melihat semuanya.

Continue Reading

Sejarah Mengenai Kota Lisbon Yang Terkenal Dengan Keramiknya

Sejarah Mengenai Kota Lisbon Yang Terkenal Dengan Keramiknya

No2lisbon.net – Setiap negara atau dearah punya keunikan dan keindahannya masing-masing. Salah satunya adalah kota Lisbon yang berada di negara Portugal yang terkenal dengan keramik yang menghiasi bangunan di kota ini.

Berbeda dengan rumah dan bangunan yang biasa kita lihat, hampir seluruh bangunan yang ada di kota Lisbon bukan berdinding tembok, tapi berdinding keramik, seperti yang digunakan untuk lantai bangunan.

Namun keramik yang dipasang pada dinding bangunan dan rumah di kota Lisbon bukan hanya keramik biasa yang polos, nih, teman-teman.

Keramik yang dipasang di dinding bangunan dan rumah di Lisbon terlihat menarik, bahkan ada yang menceritakan sebuah kisah dari potongan keramik yang dipasang.

Namun keramik yang dipasang pada dinding bangunan dan rumah di kota Lisbon bukan hanya keramik biasa yang polos, nih, teman-teman.

Selain membuat kota Lisbon menjadi lebih menarik, ternyata ada sejarah panjang penggunaan keramik untuk dinding di rumah dan bangunan kota Lisbon. Seperti apa, ya, kisah keramik di Lisbon yang menjadikannya semakin menarik?

Sebagian Besar Tembok Rumah dan Bangunan di Kota Lisbon Dilapisi Keramik
Apa warna cat dinding rumah dan kamar tidur teman-teman? Mungkin dinding kamar tidur teman-teman dicat dengan warna favorit.

Berbeda dengan di rumah kita, sebagian besar bangunan di kota Lisbon dindingnya dipasangi keramik, seperti lantai rumah.

Namun keramik yang dipasang bukan keramik polos, nih, tapi berhiaskan berbagai lukisan dan gambar yang berwarna-warni.

Bahkan pada beberapa bangunan, keramik yang dipasang menunjukkan kisah atau cerita tertentu.

Seperti keramik yang dipasang di Stasiun Alameda, yang menggambarkan navigator dan kapal sebagai cerita sejarah pelayaran Portugal.

Pemasangan keramik pada dinding-dinding bangunan kota Lisbon membuat kota ini menjadi terlihat lebih menarik dan berwarna-warni.

Selain kisah sejarah, ada berbagai pola yang juga digambarkan pada keramik, yang membuatnya kemudian disebut sebagai seni keramik atau seni ubin.

Keramik Pertama Kali Sampai di Portugal pada Abad ke-15
Keramik yang menghiasi dinding bangunan kota Lisbon disebut sebagai azulejo, yaitu kata turunan dari bahasa Portugis, yang artinya ‘biru’.

Namun sebenarnya kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu az-zulayj, yang berarti ‘batu yang dipoles’.

Azulejo pertama kali masuk ke Portugal pada abad ke-15, yanag diimpor dari Spanyol.

Masuknya azulejo ke Portugal ini atas permintaan Raja Manuel I yang saat itu memimpin Portugal, karena dirinya melihat keindahan kota Granada, Spanyol, dan ingin menghiasi Istana Sintra dengan keramik.

Saat itu, pola lukisan pada keramik masih terbatas pada pola geometris dengan warna yang terbatas.

Namun seiring waktu, seniman Portugis mulai menambahkan berbagai gambar di keramik, mulai dari gambar hewan, tumbuhan, hingga manusia.

Bahkan keramik yang mereka buat mulai menceritakan berbagai kisah, nih, teman-teman, yang kemudian dipasang di gerejaa-gereja kota Lisbon.

Azulejo Semakin Populer di Abad 18 dan 19
Setelah banyak bangunan yang menggunakan keramik lukis untuk dindingnya, semakin banyak bangunan yang temboknya berlapiskan keramik.

Hingga akhirnya pada abad ke-18 dan 19, penggunaan keramik di Portugal mencapai puncaknya dan digunakan hampir di setiap rumah dan bangunan kota Lisbon.

Dengan menggunakan keramik yang dipasang di dinding, mereka menganggap kalau hal ini membuat rumah mereka terlihat lebih berseni.

Selain itu, pemasangan keramik juga berdasarkan alasan kepraktisan.

Keramik yang dipasang pada dinding luar rumah akan membuat rumah lebih sejuk ketika musim panas, tapi juga melindungi rumah dari kelembapan, dan mengurangi suara bising dari jalan.

Ternyata Azulejo Juga Pernah Tidak Disukai
Karena banyaknya orang yang memasang azulejo di dinding rumahnya, azulejo sempat tidak disukai oleh orang-orang.

Hal ini berlangsung pada abad 20, di mana orang-orang menganggap azulejo dan seni ubin dilihat sebagai sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat kelas baawah.

Ketika itu, azulejo sempat dianggap bukan sebagai sesuatu yang indah dan menghiasi gereja dengan berbagai kisahnya, nih.

Azulejo banyak dianggap sebagai keramik yang hanya menutupi rumah-rumah masyarakat kelas bawah.

Tahun 1950an, Azulejo Kembali Disukai dan Dianggap Sebagai Seni
Setelah tidak disukai oleh banyak orang, sekitar tahun 1950-an, azulejo kembali disukai oleh penduduk Lisbon.

Penyebabnya adalah pembangunan stasiun kereta Lisbon yang dihiasi dengan keramik azulejo.

Pembangunan stasiun kereta Metro Lisabon melibatkan seorang seniman bernama Maria Keil yang diminta untuk menutupi dinding stasiun dengan keramik.

Hal ini dipilih karena biaya perawatan dinding keramik dianggap lebih murah dibandingkan dinding tembok dari semen.

Ada 19 stasiun kereta yang kemudian dihiasi dengan keramik yang menceritakan berbagai kisah dan lukisan warna-warni.

Berbagai Keramik dengan Pola Menarik Ada di Museum Keramik Lisbon
Karena kota Lisbon terkenal dengan keindahan keramiknya, bahkan ada museum khusus yang berisikan berbagai keramik.

Museum ini bernama Lisbon’s Tile Museum atau Museum Keramik Lisbon yang terletak di bekas sebuah biara, yaitu biara Madre de Deus.

Lokasi ini dipilih karena biara ini terkenal dengan berbagai azulejo yang menarik.

Di museum ini, terpajang berbagai koleksi dan contoh keramik di Lisbon yang menampilkan berbagai cerita.

Banyaknya keramik dengan berbagai warna dan cerita inilah yang membuat kota Lisbon menjadi menarik dan banyak dikunjungi turis untuk melihat keindahan serta keunikan bangunan.

Continue Reading